Kamis, 23 Desember 2010

Manusia Purba Itu Kawini Manusia Modern

Kamis, 23 Desember 2010 | 15:14 WIB













KOMPAS.com - Dalam publikasinya di Jurnal Nature, Selasa (22/12/10), tim peneliti dari Max Planck Institut for Evolutionary Anthropology (MPI EVA) yang dipimpin Svante Paabo menyimpulkan bahwa fosil manusia purba yang ditemukan di Siberia adalah spesies baru. Mereka memastikan perbedaan dengan manusia purba lainnya setelah berhasil menganalisa 70 persen dari DNA inti fosil tulang dan jari yang ditemukan di Gua Denisova.

Tak hanya mengungkap fakta bahwa manusia kini memiliki "saudara" baru, peneliti juga mengungkapkan fakta mengejutkan lainnya. Denisovans, si manusia purba jenis baru itu, ternyata pernah melanglangbuana hingga Asia dan melakukan aktivitas perkawinan dengan manusia modern di wilayah Melanesia yang selama ini menyebar di Papua Nugini dan sekitar wilayah Pasifik lainnya.

Hal itu diketahui setelah peneliti membandingkan DNA Denisovans dengan manusia modern. Peneliti mengatakan, sebanyak 4-6 persen DNA orang Melanesia memiliki kesamaan dengan DNA Denisovans. "Kami kira ini adalah kesalahan pada awalnya. Tapi ternyata ini nyata," kata David Reich dari Harvard University yang terlibat penelitian ini.

Dengan hasil penelitian ini, orang-orang Melanesia dikatakan memilki materi genetik kuno yang berasal dari dua manusia purba, Neanderthals dan Denisovans. Sebelumnya, telah ada penelitian yang mengungkapkan bahwa seluruh manusia non Afrika memiliki DNA dari Neanderthals, konsekuensi dari menyebarnya populasi Neanderthals di masa lalu.

Skenario para ilmuwan mengatakan, Neanderthals dan Denisovans berasal dari satu moyang di Afrika. Setelah terpisah tetapi sebelum menyebar ke Asia dan Eropa, Neanderthals berinteraksi dan kawin dengan manusia modern. Alhasil, seluruh manusia modern non Afrika memiliki materi genetik dari Neanderthals.

Sementara itu, Denisovans menyebar ke timur setelah terpisah menjadi spesies sendiri. Mereka bertemu dengan kelompok manusia modern yang bergerak ke arah Melanesia kurang lebih 45.000 tahun yang lalu. Akhirnya, kedua jenis manusia itu pun berinteraksi dan kawin, menghasilkan perpaduan materi genetik keduanya yang kini terdeteksi dalam penelitian ini.

Meski demikian, para peneliti tidak menyatakan bahwa Denisovans menyebar sampai Melanesia. "Yang kami katakan adalah, Denisovans kawin dengan moyang Melanesia. Kemudian, populasi moyang Melanesia yang sudah kawin dengan Denisovans itu bergerak ke arah Melanesia dan Papua Nugini," kata Bence Viola, salah satu antropolog dari MPI EVA.

Menurut pendapat Reich, interaksi antara Denisovans dan manusia modern mungkin lebih dari yang diperkirakan. "Mereka pasti tersebar luas di Asia," kata Reich. Penelitian genetika populasi pada orang-orang di Asia Minor menurut Reich bisa memberi petunjuk mengenai persebaran dan interaksi Denisovans.

Rick Potts, ilmuwan dari Smithsonian Institution yang tak terlibat penelitian mengatakan, hasil penelitian bisa saja tidak merujuk pada perpaduan genetik Denisovans dan manusia modern. Menurutnya, bisa saja materi genetik yang ada pada orang Melanesia adalah materi genetik kuno yang dipertahankan dan sudah hilang di populasi manusia lain.

Namun demikian, Potts tidak memiliki penjelasan lain dari fenomena tersebut. Ia hanya mengatakan, "Saya sangat terkesan dengan publikasi ini. Artikel itu bisa mengajak kita menerawang jauh dan merenungkan. Dan, ini adalah hasil ilmu pengetahuan yang baik."


Rabu, 22 Desember 2010

Sains - Observatorium Antariksa Bosscha

Bosscha Mungkin Sebaiknya Pindah ke NTT

Sabtu, 18 Desember 2010 | 11:47 WIB- Doc. Kompas


JAKARTA, KOMPAS.com
- Indonesia punya Observatorium Bosscha, satu observatorium dengan teleskopnya yang telah dipergunakan sejak tahun 1920-an. Observatorium tersebut bisa menjadi wadah untuk membangun minat dalam bidang astronomi maupun sebagai fasilitas riset.

Namun, melihat kondisinya kini. Apakah mungkin Bosscha dapat digunakan untuk menunjang riset? Dr. Johny Setiawan, astronom asal Indonesia yang bekerja di Max Planck Institute for Astronomy, Jerman mengatakan, "Bosscha-nya mungkin masih bisa, tapi kondisi sekitarnya yang sudah tidak memungkinkan."

Ia mengatakan, "Wilayah Bandung sekarang sudah terlalu padat dan banyak polusi cahaya sehingga tak mungkin melakukan observasi astronomi." Kepadatan dan cahaya
akan menghambat observator untuk melihat langit. Sesuai standar, wilayah yang layak digunakan untuk melakukan observasi adalah wilayah yang lapang, tak banyak berdebu, suhu yang tak terlalu panas serta tak banyak polusi cahaya yang berasal dari lampu rumah penduduk maupun kendaraan.

"Wilayah di Indonesia yang baik digunakan untuk melakukan observasi adalah Nusa Tenggara Timur. Karakteristik wilayah di sana hampir sama dengan di Observatorium La Sillia Chile. Gurun dan tak banyak polusi cahaya," ungkap Johny, sebaiknya tambah Johny “keberadaan Bosscha bisa menjadi langkah awal untuk membangun observatorium di Indonesia yang bertujuan lebih dari sekedar wisata, tetapi juga penelitian. Ini bisa menjadi cikal bakal untuk lebih mengembangkan astronomi di Indonesia”.

Ia mengatakan, "Potensi kita di bidang astronomi cukup banyak. Di Bandung ada yang sampai membuat majalah astronomi yang terbit berkala. Kita sebenarnya cuma tak memiliki kesempatan untuk itu." Pengembangan observatorium akan memberikan kesempatan lebih.

"Nantinya, jika bisa kita juga membuat jejaring dengan negara-negara tetangga sehingga bisa mengembangkan," katanya. Ia memungkas dengan berkata, "Astronomi Indonesia hanya kecil di dalam negeri, tetapi sebenarnya besar dan tersebar di luar."

Selasa, 14 Desember 2010

Economic - Pengembangan Usaha Kecil

S I B (Sistem Informasi Baseline) Economic Survey

Penelitian Dasar Potensi Ekonomi atau dikenal dengan Baseline Economic Survey (BLS) merupakan penelitian awal/dasar atas keberadaan potensi sub sektor ekonomi/komoditi disuatu Daerah Tingkat I/Propinsi terutama dalam hubungannya dengan pengembangan usaha kecil yang dilaksanakan sejak tahun 1979. Untuk menyebarluaskan hasil penelitian BLS secara cepat, hasil penelitian BLS dimasukkan kedalam suatu sistem informasi yang dikenal dengan Sistem Informasi BLS (SIB). Hasil akhir penelitian BLS adalah Daftar Skala Prioritas Subsektor Ekonomi/komoditi yang potensial untuk dikembangkan di setiap Propinsi, Kabupaten/Kota, dan Kecamatan yang dikelompokkan dalam subsektor ekonomi/komoditi yang Sangat Potensial (SP), Potensial (P) dan Kurang Potensial (KP).

Pengelompokkan tersebut dianalisis berdasarkan 6 faktor, yaitu Pemasaran, Kewirausahaan, Teknis Produksi, Pertumbuhan, Infrastruktur (Sarana/Prasarana) dan Kebijakan Pemerintah dalam pengembangan usaha kecil.

Pada kajian tahun 2006, terdapat perubahan yang cukup mendasar dalam penetapan Daftar Skala Prioritas, yang semula menggunakan kriteria data produksi, pendapat instansi, dan data primer responden UMKM pada suatu komoditi/produk/jenis usaha di suatu kecamatan, menjadi penetapan Komoditi/Produk/Jenis Usaha (KPJu) Unggulan di kabupaten/kota dengan menggunakan alat analisis Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) dan Analytic Hierarchy Process (AHP).

Hasil Penelitian BLS meliputi 31 Propinsi yaitu Sumut, Riau, Kepulauan Riau, Sumbar, Sumsel, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jabar, Banten, Jateng, DIY, Jatim, Kaltim, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Sulut, Gorontalo, Sulteng, Sultra, Sulsel, Bali, NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Irian Jaya Barat. Sedangkan hasil penelitian penetapan komoditi/produk/jenis usaha (KPJu) unggulan daerah telah dilaksanakan di 7 Propinsi, yaitu Sumatera Selatan, Banten, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Adapun manfaat dari kajian tersebut adalah :

  1. Mengenal dan memahami profil daerah, profil UMKM, kebijakan Pemerintah dan peranan Perbankan,
  2. Memberikan informasi tentang Komoditi/Produk/Jenis Usaha (KPJu) Unggulan yang perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di suatu kabupaten/kota dan propinsi dalam rangka:
    1. mendukung pembangunan ekonomi daerah;
    2. menciptakan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja; serta
    3. meningkatkan daya saing produk.
  3. Memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah dalam rangka pengembangan KPJu unggulan UMKM.

Kamis, 09 Desember 2010

Produksi Pertanian - SINGKONG

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Singkong

SINGKONG Merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi manusia.

Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionin.

Sejarah dan pengaruh ekonomi

Jenis singkong Manihot esculenta pertama kali dikenal di Amerika Selatan kemudian dikembangkan pada masa pra-sejarah di Brasil dan Paraguay. Bentuk-bentuk modern dari spesies yang telah dibudidayakan dapat ditemukan bertumbuh liar di Brasil selatan. Meskipun spesies Manihot yang liar ada banyak, semua varitas M. esculenta dapat dibudidayakan.

Produksi singkong dunia diperkirakan mencapai 184 juta ton pada tahun 2002. Sebagian besar produksi dihasilkan di Afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.

Singkong ditanam secara komersial di wilayah Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada sekitar tahun 1810[1], setelah sebelumnya diperkenalkan orang Portugis pada abad ke-16 ke Nusantara dari Brasil.

Umbi akar singkong banyak mengandung glukosa dan dapat dimakan mentah. Rasanya sedikit manis, ada pula yang pahit tergantung pada kandungan racun glukosida yang dapat membentuk asam sianida. Umbi yang rasanya manis menghasilkan paling sedikit 20 mg HCN per kilogram umbi akar yang masih segar, dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang rasanya pahit. Pada jenis singkong yang manis, proses pemasakan sangat diperlukan untuk menurunkan kadar racunnya. Dari umbi ini dapat pula dibuat tepung tapioka.

Penggunaan

Dimasak dengan berbagai cara, singkong banyak digunakan pada berbagai macam masakan. Direbus untuk menggantikan kentang, dan pelengkap masakan. Tepung singkong dapat digunakan untuk mengganti tepung gandum, baik untuk pengidap alergi. Biasa digunakan di negara-negara seperti di Amerika Latin, Karibia, Tiongkok, Nigeria dan Eropa

Produksi Ubi Kayu Dunia

Peringkat

Nama Negara

Jumlah (Ton)



1

Niger

44.582.000


2

Thailand

27.565.636


3

Brasil

25.877.918


4

Indonesia

21.593.052


5

Rep. Demokratik Kongo

15.019.430


6

Ghana

9.650.000


7

Vietnam

9.395.800


8

India

9.053.900


9

Angola

8.840.000


10

Tanzania

6.600.000


11

Uganda

5.072.000


12

Nmozambik

5.038.623


13

Paraguay

4.800.000


14

Rep. Rakyat China

4.361.573


15

Kamboja

3.676.232


Total Produksi Dunia

201.126.164


Senin, 06 Desember 2010

POLKAM - Orang Yogya Sudah Lama Tak Percaya SBY

Headline

Nasional - Selasa, 30 November 2010 | 13:49 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Pasca pernyataan yang dikeluarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai monarki di Yogyakarta, kepercayaan masyarakat Yogyakarta terhadap SBY telah hilang.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Dukuh se-Propinsi DI Yogyakarta, Sukiman saat dihubungi INILAH.COM, Selasa (30/11/2010). "Kalau tidak percaya sudah dari sejak lama, masyarakat Yogyakarta juga mengetahui kasus-kasus yang menjadi perhatian dari mulai Bank Century hingga penegakan hukum, itu membuat masyarakat tidak percaya dengan SBY," ucapnya.

Namun pernyataan Presiden SBY mengenai monarki di Yogyakarta, menghilangkan kepercayaan masyarakat Yogyakarta terhadap SBY. "Rasa kepercayaan masyarakat Yogya sudah hilang sama sekali terhadap SBY," ucapnya.

Menurut Sukiman Pernyataan SBY yang mengatakan sistem monarkhi bertabarakan dengan demokrasi benar-benar melukai perasaan rakyat. "Karena rakyat Yogya sepenuhnya tahu monarkhi itu hanya dilingkungan keraton saja dan bagian dari budaya, namun dalam pelaksanaannya sehari-hari rakyat Yogya tetap menjalankan demokrasi dengan pemerintahan umum," jelasnya.

Sukiman mengatakan keistimewaan Yogyakarta terletak dari sejarah yang tidak bisa dilepaskan dari wilayah tersebut. "Baik itu berupa kerajaan hingga sejarah perjuangan kemerdekaan. Dan pantas jika Sultan Hamenkubuwono dan Puro Pakualaman menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur, rakyat sudah setuju itu tanpa perlu ada pemilihan. Tapi mengapa SBY seperti tidak menghargai sejarah Yogyakarta," tegasnya.