Selasa, 04 Mei 2010

IPTEK

INDUSTRI GULA YANG EFISIEN DAN KOMPETITIF


Gula merupakan salah satu bahan kebutuhan pokok yang dibutuhkan di Indonesia,
bahkan juga di dunia. Dalam AFTA (ASEAN Free Trade Agreement), komoditi gula
menjadi salah satu komoditi yang masuk kedalam
highly sensitive list.
Untuk bersaing dengan gula impor, tentunya dibutuhkan adanya peningkatan secara
signifikan baik untuk level pertanian, industri atau pabrik gula, teknologi pendukung dan
tidak kalah pentingnya kebijakan pemerintah yang mendukung. Pemerintah sendiri telah
mencanangkan revitalisasi industri gula, sebagai program prioritas nasional guna
menciptakan industri gula yang efisien dan kompetitif.
Terkait hal tersebut, rombongan BPPT yang dipimpin oleh Direktur Pusat Teknologi Industri
Manufaktur (PTIM), Erzi Agson Gani, mengunjungi PT. Perusahaan Negara (Persero) atau
PTPN XI di Surabaya guna menjajaki kemungkinan kerjasama implementasi kegiatan
revitalisasi industri gula, Selasa (27/04). Rombongan diterima langsung oleh Direktur
Perencanaan dan Pengembangan PTPN XI, Soejitno, dan Direktur Teknik dan Pengolahan
PTPN XI, Tukidjo, serta jajaran lainnya.
PTPN XI adalah salah satu dari tujuh BUMN Gula yang memiliki 16 Pabrik Gula (PG) dan
berlokasi di jawa Timur. Produksi gula PTPN XI pada tahun 2009 adalah 354.931 ton yang
merupakan sekitar 15% dari total produksi gula nasional. Melalui program revitalisasi industri
gula nasional, produksi gula PTPN XI diharapkan dapat ditingkatkan 51% menjadi 542.847 ton
gula pada tahun 2014.
Selain penjajakan kerjasama, kunjungan ini dimaksudkan juga untuk melihat contoh Low–grade
centrifuge
yang akan dikembangkan dalam rangka meningkatkan TKDN (Tingkat Komponen Dalam
Negeri) komponen PG. Kerjasama antara BPPT dan PTPN XI sendiri, sudah terjalin dengan
baik sejak tahun 2005 didalam pengembangan turbin uap jenis
back–pressure
yang merupakan komponen utama pabrik gula.
Tak hanya itu, sesuai dengan peran BPPT yang juga merupakan lembaga intermediasi, dalam
kesempatan tersebut dipertemukan pula semua pihak yang terlibat dalam mendukung program
revitalisasi industri gula. Diantaranya perwakilan dari Kementerian Perindustrian, serta
perwakilan dari industri-industri manufaktur seperti dari PT Rekayasa Industri, PT Barata
Indonesia dan Pura-Group.


DEMI KEMANDIRIAN ENERGI



Indonesia merupakan negara salah satu negara penghasil batubara terbesar di dunia. Tahun 2008 yang lalu, Indonesia berhasil membukukan angka sebesar 246 juta ton batubara, dan lebih dari 50% nya dilempar keluar negeri dalam kondisi mentah. Lain halnya dengan China, dengan kemampuan produksi batubara yang mencapai 2,761 miliar ton di tahun 2008 (sumber: International Energy Agency 2009), sebagian besar digunakan untuk kebutuhan industri dan pasokan dalam negeri China sendiri. Kondisi ini mencerminkan Indonesia belum mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya batubara secara maksimal.

“Dengan hanya mengekspor secara besar-besaran batubara mentah, tentunya nilai tambah yang didapat tidak terlalu banyak. Kami di BPPT mencoba mengolah batubara mentah tersebut menjadi sintetik gas dengan cara gasifikasi batubara”, jelas Kepala Program Teknologi Gasifikasi untuk Substitusi BBM dan BBG, Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi (PTPSE) BPPT, Rohmadi Ridlo, Rabu (14/04).

Gasifikasi batubara adalah proses pengolahan batubara melalui pembakaran dengan oksigen terbatas yang menimbulkan panas. Panas yang timbul tersebut akan menggerakan reaksi reduksi yang kemudian akan menghasilkan gas, atau yang biasa disebut sintetik gas.

“Selama ini, pembangkit milik PLN sebagian besar menggunakan solar sebagai bahan baku. Demikian juga dengan industri seperti industri keramik yang biasa menggunakan BBM dan BBG dalam proses produksinya. Sintetik gas tersebut, dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi listrik yang mampu menggantikan penggunaan solar dan BBG yang secara hitung-hitungan ekonomis lebih murah”, kata Ridlo.

Untuk 1 kWh, menurut Ridlo, memerlukan sekitar Rp 2000 apabila menggunakan solar. Sementara bila menggunakan sintetik gas dari batubara memelukan biaya kurang lebih Rp 600. “Dari gambaran tersebut dapat dilihat bahwa biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan listrik dari gasifikasi batubara jauh lebih efisien dibanding menggunakan solar”.

“Untuk tahun 2010 ini, kami sedang mengembangkan teknologi gasifikasi batubara yang mampu menghasilkan 200-400 kw. Jangka panjangnya kami berharap sintetik gas ini dapat bermanfaat besar bagi dunia industri Indonesia”, jelasnya.

Pencairan Batubara

Dikesempatan yang berbeda, Kepala Bidang Sumberdaya Energi Fosil, TPSE BBPT, Sumbogo Murti, menjelaskan bahwa selain gasifikasi batubara BPPT juga mencoba meningkatkan pemanfaatan batubara mentah kearah yang lebih luas, yakni dengan mengembangkan teknologi pencairan batubara.

“Dari total cadangan batubara di Indonesia, 60% diantaranya adalah batubara muda. Batubara ini berkualitas rendah dengan kandungan air yang sangat tinggi. Batubara jenis ini sama sekali tidak bisa dimanfaatkan dan tidak bernilai jual”, kata Sumbogo.

Proses pencairan batubara mentah ini diawali dengan proses gasifikasi, yang kemudian dilanjutkan dengan proses pencairan. “Gas sintesa dari gasifikasi batubara memiliki banyak potensi diantaranya dapat diproses lebih lanjut menjadi BBM Sintetis, untuk transportasi dan industri; atau sebagai bahan baku untuk industri kimia maupun untuk umpan industri pupuk”.

“Dengan cara ini, kita dapat memanfaatkan secara optimal batubara kualitas rendah yang belum dimanfaatkan oleh orang lain. Selain nilai tambah yang didapat, dengan adanya teknologi gasifikasi dan pencairan batubara ini akan dapat meningkatkan kemandirian Indonesia dalam bidang energi”, tutur Sumbogo.

Tidak ada komentar: