Jumat, 14 Mei 2010

IPTEK

HYPERSPECTRAL REMOTE SENSING: TEKNOLOGI PENDUKUNG KETAHANAN PANGAN

Beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar negara Asia, termasuk Indonesia.
Sebagai makanan pokok, pemenuhan kebutuhan beras bagi penduduk Indonesia
mendapat perhatian khusus, karena hal ini menyangkut masalah stabilitas sosial,
ekonomi dan politik. Segala daya upaya harus di siapkan oleh pemerintah dari semua lini
terkait secara sinergi untuk mengupayakan stabilitas pemenuhan kebutuhan pokok akan
pangan, mulai dari kebijakan pemerintah, payung hukum, kontrol sarana produksi
pertanian dipasar, asistensi teknik, teknik estimasi produksi, distribusi panen, sampai
pada kontrol harga jual di pasar.
Pengembangan sistem pertanian yang sesuai dengan tuntutan era informasi dan komunikasi
global, menuntut penyediaan informasi sumberdaya pertanian yang cepat, akurat, terkini, dan
obyektif - kuantitatif. Oleh sebab itu sistem informasi lahan dan pertanian yang didukung oleh
teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan
ketahanan pangan nasional yang ditinjau dari perspektif kemajuan IPTEK dibidang teknologi
penginderaan jauh.
Pusat TISDA BPPT merupakan perintis pembangunan industri jasa pengindraan jauh di
Indonesia. Sesuai tugas pokok dan fungsi BPPT dalam melaksanakan pengkajian dan
penerapan teknologi untuk mendukung pembangunan nasional, teknologi Hiperspektral (hypers
pectral remote sensing technology) dipilih sebagai salah satu teknologi lanjutan (frontier)
dari teknologi Multispektral untuk diuji-kaji, dikembangkan dan selanjutnya diaplikasikan di
Indonesia terkait dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang kompleks di
masyarakat”, ungkap Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam (PTISDA), M.
Sadly saat diwawancari diruang kerjanya (11/05).
Lebih lanjut Sadly menjelaskan bahwa Teknologi Hiperspektral termasuk suatu paradigma baru
dalam dunia penginderaan jauh yang pemanfaatannya jauh lebih besar dibandingkan dengan
teknologi sebelumnya. Salah satunya adalah dalam klasifikasi tanaman padi, dapat dilakukan
lebih detil dan mampu membedakan jenis tanaman padi serta kondisinya lebih baik dan rinci
dibanding dengan menggunakan foto udara dan sistem multispektral yang selama ini
digunakan.
Teknologi Hiperspektral merupakan teknologi alternatif untuk memberikan solusi kepada
pemerintah untuk mengetahui seberapa besar produktifitas petani dari hasil panen. “Karena
selama ini pemerintah tidak mempunyai data yang akurat dalam menentukan perhitungan
produksi beras nasional, akibatnya, sering kebijakan pemerintah menjadi salah”, komentarnya.
“Setelah mengetahui seberapa besar produktivitas, lalu dihitung evaluasi ekonominya, apakah
petani bisa sejahtera atau tidak, sehingga kita juga dapat memberikan rekomendasi kepada
pemerintah, untuk menghitung jasa lingkungan yang pemerintah harus hitung dengan anggaran

negara sehingga petani lebih sejahtera” tambahnya.
Dalam perkembangan teknologi hiperspektral yang terkini, menunjukkan bahwa teknik untuk
menentukan kanal yang optimal atau yang paling sensitif telah mengalami kemajuan yang
cukup signifikan yang dikaitkan dengan karakteristik biofisik, fisiologi dan biokimia tanaman.
Dengan demikian, pemantauan kondisi (setiap fase pertumbuhan) dari tanaman padi dapat
dilakukan dengan baik dan terukur, sehingga akan memudahkan dalam mengestimasi
produktivitas tanaman padi sebelum panen. Setelah informasi diperoleh, maka dilakukan
diseminasi ke pengguna.
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir teknologi “hyperspectral remote sensing” telah
berkembang pesat di negara-negara maju dan juga negara yang mempunyai iklim monsoon
seperti Jepang, Korea, maupun Cina. Sebagai negeri yang berbasis pada sektor pertanian,
Indonesia, teknologi ini sangat menjanjikan untuk dimanfaatkan untuk membantu krisis
informasi seputar pangan, atau bisa juga dikatakan krusial untuk mendukung program
ketahanan pangan nasional.

Kerjasama pihak lain
BPPT telah melakukan kerjasama dengan beberapa institusi riset di luar negeri dalam bidang
teknologi hiperspektral dan melakukan penandatangan MoU dengan Earth Remote Sensing
Data Analysis Center (ERSDAC) Jepang dalam kegiatan kerjasama
“Research Project of Hyperspectral Technology for Agricultural Application in Indonesia (HyperSRI Project)”
, tujuan utamanya mengkaji, mengembangkan metode/algoritma untuk memantau pertumbuhan
tanaman padi, serta membangun model prediksi produksi padi.
BPPT juga bekerjasama dengan institusi di dalam negeri, seperti: LAPAN, Pusat Data dan
Informasi Departemen Pertanian, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian,
Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN) serta dengan Pemerintah Kabupaten
Indramayu dan Subang yang dipilih sebagai lokasi kegiatan.
“Kerjasama BPPT dengan institusi dalam negeri maupun luar negeri dalam pengkajian,
pemanfaatan dan pengembangan teknologi hyperspectral remote sensing diharapkan dapat
dilaksanakan secepat mungkin, sehingga pemanfaatannya di Indonesia dapat segera
dilaksanakan, terutama dalam memberi solusi nyata terhadap permasalahan sumberdaya alam
(mulai dari kehutanan, pertanian, kelautan, dan lainnya), khususnya dalam mendukung
program ketahanan pangan nasional”, ungkapnya.

Tidak ada komentar: