Kamis, 06 Mei 2010

Kesenian & Budaya

Laporan dari Utrecht Bob Tutupoly Bangkitkan Kembali Romantika Belanda-RI


Oom Bob Beraksi

Utrecht - Ratusan publik Belanda larut dalam emosi ketika Bob Tutupoly menyanyikan lagu Belanda tempo doeloe Rozen die Bloeien. Kehadiran Bob adalah meesterzet (langkah brilian) yang layak diapresiasi. Romantika lama kedua bangsa terasa hidup kembali.

Sebagaimana bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia, bangsa Belanda juga senang, tersentuh, jika ada orang asing bisa berkomunikasi dengan mereka dalam bahasa Belanda.

Publik terutama usia 50 ke atas menjadi histeris, ikut bernyanyi dan melambai-lambaikan tangan, ketika Bob dengan sempurna menyanyikan lagu Rozen die Bloeien. Mereka tak menyangka masih ada orang Indonesia yang begitu fasih menyanyikan lagu itu.

Jadilah Bob malam itu sebagai ikon pengingat, membangkitkan kembali romantika hubungan panjang kedua bangsa. "Indonesia, De Gordel van Smaragd (sabuk zamrud, red) nan indah, tempat matahari bersinar tak henti. Silakan datang berkunjung," ujar Bob di panggung Indonesian Night, Vakantiebeurs 2010, Utrecht, Jumat malam atau Sabtu (16/1/2010) WIB.

Dubes J.E Habibie menjawab detikcom mengatakan, bahwa untuk partisipasi pada Vakantiebeurs 2010 pihaknya sengaja merancang promosi dengan idiom-idiom kebudayaan yang mudah dimengerti oleh publik Belanda.

"Promosi kita konsentrasikan untuk menghidupkan nostalgia masa lalu dan membangkitkan kekangenan mereka dan keluarganya untuk berkunjung ke Indonesia," terang Habibie.

Konten hiburan dibuat lebih merata dari berbagai daerah di Nusantara dengan penekanan pada seni budaya Ambon/Maluku dan Papua. Habibie yang akarnya berasal dari Timur (Pare-pare) menilai bahwa pendekatan ini akan lebih efektif menyentuh pasar pariwisata Belanda.

"Ini sekaligus juga menegaskan bahwa dua wilayah tak terpisahkan dari NKRI itu memiliki keindahan kebudayaan dan alam yang menarik serta aman untuk dikunjungi," ujar Habibie.

Habibie optimis ambisi untuk meningkatkan jumlah pelancong Belanda ke Indonesia dari 141.000 tahun lalu ke angka 200.000 orang per tahun dapat tercapai. Apalagi Garuda Indonesia akan kembali beroperasi menerbangi jalur Jakarta-Amsterdam.

"Angka tersebut masih dapat terus ditingkatkan, karena jumlah warga Belanda yang memiliki ikatan emosi dengan Indonesia ada 1,7 juta orang," tegas Habibie, seraya menekankan bahwa angka itu termasuk para Indo (blasteran Indonesia-Eropa, red).

Selama 6 hari (12/1 s/d 17/1/2010), stan Indonesia paling ramai menyedot perhatian pengunjung. Didukung 150 seniman tari dan musik yang didatangkan Depbudpar, stan ini menampilkan antara lain Tari Legong, Tari Sasando, Lagu-lagu Rakyat Ambon dan Cross Culture, Rampak Kendang, Tari Nusantara, Tari Blantel, Workshop Tari dan Musik, Angklung Interaktif dan Live Music.

Berikut ini lirik lagu Rozen die Bloeien yang dinyanyikan Bob Tutupoly dan memantik nostalgia masa lalu. Lagu Belanda tempo doeloe ini juga dapat dicari di internet.

Rozen die Bloeien

Refrein:

rozen die bloeien
voor jou en voor mij
rozen die bloeien
dat gaat nooit voorbij

zo is het leven
we zijn toch gelijk
rozen die bloeien
of je arm bent of rijk

***

woon je in een mooie villa
of in een doodgewone straat
de zon die zal ook voor jou schijnen
tot dat ze 's avonds ondergaat

geluk is toch voor alle mensen
waar je woont of wie je bent
iedereen heeft in zijn leven
eens vreugde gekend

(Kembali ke refrein)

***

ben je eenzaam en verlaten
zit je thuis altijd alleen
heb je niemand om mee te praten
kun je nergens anders heen

zeg dan toch ook in mijn leven
was minstens een herinnerring
zo mooi om nooit meer te vergeten
het leven krijgt dan weer zin


(Terjemahan: E. Santosa)

Mawar Berkembang

Refrein:

mawar berkembang
untukmu dan untukku
mawar berkembang
tak kan pernah berlalu

begitulah kehidupan
bukankah kita itu sama
mawar berkembang
tak peduli kamu miskin atau kaya

***

apakah kamu tinggal di vila indah
atau di jalanan biasa
matahari akan bersinar untukmu juga
hingga malam dia tenggelam

kebahagiaan itu untuk semua orang
di mana pun kamu tinggal atau kamu siapa
setiap orang dalam hidupnya
pernah merasakan kebahagiaan

(Kembali ke refrein)

***

apakah kamu kesepian atau ditinggalkan
duduk di rumah selalu sendirian
tak punya sesiapa untuk bicara
juga tak bisa ke mana-mana

katakanlah bahwa dalam hidupku juga
sekurangnya ada satu kenangan
begitu indah untuk tak pernah dilupakan
maka kehidupan akan kembali bermakna



Laporan dari Austria Petikan Harpa Musikus Muda Indonesia Sihir Warga Wina


Rama Widi dan Dubes RI untuk Austria

Wina - Wina, Austria, adalah kotanya musik klasik Eropa dengan nama besar seperti Mozart. Tapi siapa sangka, yang mampu menyihir warga Wina dengan permainan harpa, adalah musikus muda berbakat dari Indonesia, Rama Widi.

Rama mampu menghipnotis sekitar 400 pengunjung melalui petikan harpa dalam pagelaran musik amal untuk korban gempa Haiti di Wina, Jumat (30/4/2010) lalu.

Konser amal ini diadakan oleh Diplomatic Academy Vienna bekerjasama dengan Konsul Kehormatan Haiti di Wina, dengan tema "A Night for the Children of Haiti" diselenggarakan oleh. Rama membawakan salah satu nomor andalannya "Une Chatelaine en sa tour" karya Gabriel Faure.

Rama yang tampil dengan busana batik, bersanding dengan musikus dan artis profesional dari berbagai belahan dunia. Mereka adalah musisi yang sebagian sering tampil di gedung opera paling bergengsi di Austria, Wiener Staatsoper.

Masyarakat Indonesia di Austria, sebelumnya telah mengenal Rama sebagai musisi muda yang sering mengharumkan nama Indonesia di forum internasional. Pemuda kelahiran Jakarta, Agustus 1985 ini telah mulai belajar piano sejak umur 6 tahun. Sejak tahun 2004, Rama mendalami harpa di Vienna Conservatory Austria, dibawah bimbingan maestro Julia Reth dan Robert Fontane.

Rama juga pernah bermain solo dalam sejumlah orkestra antara lain Jakarta Chamber Orchestra (Mozart Concerto for flute, harp and orchestra), Capela Amadeus String Chamber Orchestra & Joseph Haydn Konzertverein (Vivaldi Concerto), dan Simfonia Vienna (Saint Saens, Morceau de Concert). Pada Agustus mendatang akan tampil dalam Ginastera Concerto dengan Twillite Orchestra di Jakarta Simfonia Concert Hall.

Selain belajar musik di Austria, Rama juga bergabung dengan group tari tradisional Indonesia 'Gema Puspa Nusantara' di bawah naungan KBRI/PTRI Wina. Dengan kelompoknya ini, Rama turut memperkenalkan keindahan budaya dan tari-tarian tradisional Indonesia ke berbagai daerah di Austria. Mudah-mudahan makin banyak anak muda Indonesia yang terinspirasi oleh prestasi Rama.

Tidak ada komentar: