Survey Tunjukkan Orde Baru Lebih Baik dari Reformasi
Jakarta, CyberNews. Setelah 12 tahun reformasi bergulir pasca-lengsernya Presiden Soeharto, masyarakat merindukan kembali "Orde Baru". Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network Denny JA, mengatakan, hasil survei menunjukkan kondisi orde baru lebih baik (44,5 persen), dan hanya 16,9 persen masyarakat yang menyatakan kondisi reformasi lebih baik.
"Penyebabnya reformasi selama 12 tahun berjalan belum menumbuhkan ekonomi rakyat lebih baik. Mereka beranggapan ekonomi masa orde baru lebih baik," ujar Denny JA di Jakarta, Kamis (20/5). Denny memaparkan, hasil survei 1.000 responden di seluruh Indonesia yang dilaksanakan 1 hingga 5 Mei dengan metode multistage random, wawancara tatap muka, margin error 3,2 persen.
Sedang penilaian reformasi sendiri, menurutnya, hanya 31,3 persen yang menyatakan reformasi berjalan ke arah yang benar. Mayoritas atau 46,2 persen menyatakan reformasi berjalan ke arah yang salah. "Mereka yang tidak puas menyebar di berbagai level pendidikan, pendapatan. Semakin rendah pendidikan semakin tak puas atas reformasi," ujar Denny.
Reformasi, menurut responden hanya lebih baik untuk penegakan hukum dan kebebasan politik. "Untuk isu stabilitas politik, keamanan dan ekonomi, orde baru dianggap lebih baik," imbuhnya.
Menurutnya, ini "peringatan" pada pemerintah dibawah pimpina Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan juga pejuang demokrasi, bahwa masyarakat ingin demokrasi membawa kemajuan ekonomi. Karena itu, Denny menyarankan agar electoral treshold (ET) Pemilu 2014 dinaikkan 5 hingga 7 persen agar politik di DPR lebih terkendali dengan jumlah parpol yang lebih sedikit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar