Kamis, 17 Juni 2010

Sumber Daya Alam

GANDENG 7 INVESTOR ASING, Merukh Garap Lembata US$ 1,5 M


JAKARTA, Investor Daily – Pengusaha Jusuf Merukh melalui PT Merukh Lembata Copper Lembata (MLC) tahun depan dijadwalkan memulai proses konstruksi tambang tembaga dan emas senilai US$ 1,5 atau sekitar Rp 13,72 triliun di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. MLC telah melakukan penyelidikan umum untuk memetakan potensi tambang Lembata dan tinggal menanti izin eksploitasi dari pemerintah daerah.

Menurut Jusuf, harga metal, termasuk tembaga, cenderung akan turun pada 2015. Karena itu, MCL mempercepat proses konstruksi agar segera dapat mengeksploitasi sumber mineral di kawasan tersebut.

“Kami masih memiliki waktu empat tahun untuk menggenjot produktivitas tambang pada momentum harga mineral yang masing tinggi,” ujar Jusuf kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (21/8).

Deputy General Manager PT MLC Susana Elfira Seso menambahkan, saat ini MLC dan Pemkab Lembata menyosialisasikan rencana konstruksi proyek tersebut kepada masyarakat setempat sebelum memperoleh kuasa pertambangan. Menurut Susana, masyarakat Lembata adalah salah satu pemangku kepentingan dari tambang tersebut. “Sebagian keuntungan akan dikembalikan ke pemda demi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat setempat,” katanya.

Kendati begitu, hingga kini, MLC masih menuntaskan pembebasan tanah untuk kepentingan proyek tersebut. Menurut Jusuf, tanah untuk lokasi proyek ada yang milik pribadi, tapi juga ada tanah ulayat.

“Kami memberi ganti rugi sesuai NJOP (nilai jual objek pajak). Tanahnya kami pakai, kemudian kami memberi entertainment agreement untuk bayar sewa tiap-tiap tahun. Setelah operasi tambang habis, tanahnya dikembalikan kepada mereka,” jelas dia.

Untuk menggarap proyek tersebut, MCL menggandeng tujuh mitra strategis. Selain tiga perusahaan asal Jerman, yaitu Kupfer Produkte GmbH, Nortddeuttsche Affinerie AG, dan IKB Deuttsche Indutroebank AG, MCL merangkul United Metal Energy Inggris, Agape Metal Energy Singapura, dan Asian Mining Management Hong Kong. “MCL tetap memegang saham mayoritas dari total investasi keseluruhan US$ 17 miliar,” jelas dia.

Cadangan tembaga di Kabupaten Lembata mencapai sekitar 50 triliun pon. Sementara itu, mineral pengikutnya seperti emas sekitar 700 juta ton. MLC akan memproduksi potensi kekayaan mineral tersebut pada kedalaman 50 meter, dengan kadar tembaga sekitar 2,5 – 3% dan emas sekitar 7,5 gram. Menurut Jusuf, kadar tersebut jauh lebih tinggi dari kandungan tembaga dan emas PT Freeport Indonesia, di Timika, Papua.

“Namun, untuk tahap awal MLC akan memproduksi sekitar 2 miliar pound dari sekitar 3.000 hektare lahan di wilayah Utara, meliputi Kecamatan Buyasuri, Kecamatan Omesuri, dan Kecamatan Lebatukan di kabupaten tersebut,” katanya.

Dari potensi tambang emas yang ada di Lembata, MLC menargetkan produksi tembaga metal setiap tahun sekitar 350.000 ton dan memperkirakan dalam tempo 15-20 tahun mendatang, investasi sudah bisa kembali (break event point). (c122)

sumber : http://www.tekmira.esdm.go.id

Tidak ada komentar: