Kamis, 28 Oktober 2010

Ekonomi Bisnis - Kebijakan GULA

BERHARAP DARI PERUBAHAN ARAH KEBIJAKAN GULA UNI EROPA

Wayan R Susila

Uni Eropa (EU) dikenal sebagai negara yang menerapkan kebijakan gula yang sangat protektif. Tekanan dari anggota WTO, perubahan kebijakan EU terhadap negara terbelakang, dan potensi masalah domestik yang semakin membesar, membuat EU harus mereformasi kebijakan gulanya untuk dilaksanakan pada tahun 2006. Pilihan kebijakan kini sedang di bahas dan kebjakan baru EU diharapkan mengurangi secara memadai tingkat proteksinya. Hal ini dapat menjadi motor pendorong terwujudnya industri dan perdagangan gula yang lebih fair sehingga kesejahteraan yang hilang sebesar US$ 4.5 miliar per tahun akibat distorsi kebijakan, dapat dinikmati kembali oleh pelaku industri gula, termasuk produsen gula Indonesia.

Industri dan perdagangan gula dikenal memiliki tingkat distorsi tertingi kedua setelah beras. Sebagai con toh, total nilai bantuan domestik dari industri gula dunia mencapai sekitar US$ 6.4 miliar per tahun, yang nilainya hampir sama dengan nilai ekspor semua negara berkembang. Berbagai kebijakan distortif seperti bantuan domestik, dukungan harga, tarif yang tinggi, tariff–rate quota , dan subsidi ekspor mewarnai industri dan perdagangan gula pada hampir semua negara produsen dan konsumen utama. Sebagai akibatnya, terjadi kegagalan pasar yan berimplikasi harga tidak lagi mencerminkan biaya produksi. Sebuah studi oleh Beghin dan Aksoy (2003) menyebutkan bahwa kesejahteraan yang hilang akibat distrosi tersebut mencapai US$ 4.7 miliar per tahun.

Uni Eropa (EU) dikenal sebagai salah satu negara yang menerapkan kebijakan yang paling distortif terhadap industri gulanya. EU menerapkan hampir semua instrumen kebijakan untuk mendukung industri gulanya. Kebijakan tersebut bermuara dari apa yang dikenal sebagai Common Agricultura Policy (CAP) yang salah satunya diwujudkan dalam bentuk Common Market Organization (CMO). Untuk EU, nilai bantuan domstik untuk gula mencapai US$ 2.7 miliar per tahun atau mencapai 42% dari total dukungan domestik untuk seluruh industri gula di dunia.

Secara garis besar, ada tiga kebijakan dasar yang digunakan untuk memproteksi industri gula di EU yaitu dukungan harga ( price support ), tarif impor yang tinggi, serta subsidi ekspor. Kebijakan dukungan harga pada dasarnya adalah kebijakan jaminan harga minimal yang diterima petani. Untuk periode 2001/2006, dukunga harga dalam bentuk harga intervensi untuk gula putih misalnya ditetapkan E 63/kw ( E =Euro dan kw = 100 kg). Gula yang mendapat dukungan harga tersebut hanyalah gula yang masuk pada kategoi quota A dan B yang pada tahun 2001-2006 diperkirakan maksimum mencapai 14.592 juta ton. Dukungan harga tersebut jelas diatas harga rata-rata di pasar dunia yang pada lima tahun terakhir bergerak pada kisaran E 20/kw.

Kebijakan kedua yang memproteksi EU adalah tarif impor yang tinggi. Setelah tidak diijinkan menggunakan tarif impor yang berubah-ubah ( variable levies ), EU menerapkan tarif impor yang tinggi untuk melindungi produsen gulanya di pasar domestik. Tingkat tarif impor adalah E 47/kw di tambah dengan apa yang dikenal sebagai additional levy sebesar E 12/kw, sehingga total tingkat tarif impor adalah E 69/kw. Tingkat tarif impor tersebut sama saja denga menutup gula masuk ke EU, kecuali yang mendapat perlakukan khusus, seperti beberapa negara ACP ( Africa , Caribian, dan Pacific).

Poduksi yang melebihi total quot A dan B, dikenal sebagai gula C, harus diekspor keluar pasar EU dengan subsidi ekspor yang dikenal sebagai export refund sebesar E 50/kw. Biaya untuk subsidi ekspor tersebut diambil dari pajak gula A dan B yang masing-masing mencapai 2% dan 37.5% dari harga intervensi/harga dasar.

Sejalan dengan liberalisasi perdagangan, khususnya yang berkaitan dengan komitmen pada Putaran Uruguay dan juga kebijakan global untuk memerangi kemiskinan, kebijakan gula EU yang distorsinya tinggi tersebut terus mendapat tekanan. Terkait dengan komitmen subsidi ekspor, EU harus menurunkan nilai ekspor subsidinya sebesar 36%, menjadi maksmum hanya E 499.1 juta/tahun atau hanya cukup untuk mengekspor gula sebanyak 1 juta ton. Di sisi lain, EU juga mengijinkan impor gula tebu dari APC sekitar sebesar 1.2 juta ton yang juga harus di-reekspor (volume impor ini tidak masuk dalam perhitungan subsidi ekspor). Namun EU tetap akan menanggung beban untuk mengekspornya. Kebijakan import preferences untuk West Balkan ( Sebia , Montenegro , Bosnia ) yaitu impor gula tanpa pajak impor, juga akan menambah beban EU. Ahirnya, kebijakan EBA ( everything but arm ) yang diperkirakan akan diberlakukan setelah tahun 2006 mewajibkan EU untuk menerima gula dari sekitar 49 negara kurang berkembang (LDCs) tanpa pajak impor. Potensi impor diperkirakan akan mencapai 7 juta ton, sehingga menambah beban berat dari kebijakan protektif EU.

Menghadapi tekanan-tekanan tersebut, EU menilai perlu untuk meninjau kembali kebijakan pergulaannya. Mulai 1 Juli 2006, EU merencanakan sudah membenahi kebijakan gulanya atau memiliki New Market Organization dengan tiga kemungkinan :

  • Mempertahankan kebijakan yang selama ini berjalan. Pilihan kebijakan ini akan membuat industri gula EU akan tertekan dan akan mengurangi produksi, khusunya gula C. Sebagai akibatnya, sebagian petani dan pabrik gula harus keluar dri bisnis gula. Masalah akan semakin berat ketika gula dari 49 negara LDCs pada tahun 2006 harus masuk ke EU tanpa tarif impor dan mungkin terpaksa harus direekspor. Pilihan ini hanya menuda masalah dan tidak lebih dari sekedar menanam bom waktu.
  • Mempertahankan kebijakan yang ada dengan penyesuaian ( maintaining with adjusment ). Esensi dari kebijakan tetap dipertahankan, tetapi tingkat distorsinya dikurangi atau dimodifikasi. Sebagai contoh, quota A dan B direstribusi ke seluruh anggota yang memang relatif efisien memproduksi gula dan membiarkan keluar negara yang tidak efisien. Pilihan lainnya adalah penurunan price intervention menjadi E 40/kw yang sebelumnya adalah E63/kw. Selanjutnya, dana subsidi ekspor tidak hanya dibiayai oleh pajak dari gula A dan B tetapi didukung juga oleh oleh pemerintah EU. Bantuasn domestik lebih ditekankan pada konservasi laha dan lingkungan dan besarnya dukungan tidak dikaitkan secara langsung dengan produksi. Walau diperkirakan membuat kemunduran, tingkat kemunduran tidak separah pilhan pertama. Dalam merestribusi quota produksi antar negara, EU dapat memberikan semacam konpensasi pada negara yang harus melepaskan quotanya. Dengan jaminan harga yang lebih rendah, sebagai petani harus rela untuk keluar dari industri gulanya.
  • Liberalisasi perdagangan secara tuntas. Pilihan ini akan membuat semua kebijakan yang protektif akan berkurang bahkan ditiadakan. Kebijakan ini akan membuat sebagai besar petani dan pabrik gula di EU harus keluar dari bisnisnya karena tidak akan mampu besaing dngan negara yang efisien seperti Australia, Brazil, dan Thailand. Pilihan ini pasti akan mendapat tantangan keras dari pihak produsen gula di negara tesebut.

Pada bulan April 2004, commision paper yang membahas ketiga pilihan tersebut diharapkan sudah dapat diselesaikan. Pilihan (i) dan pilihan (iii) yang ekstrim dan mempunyai konsekuensi yang sangat luas diperkirakan tidak akan menjadi pilihan utama. Dengan demikian, pilihan kebijakan adalah mempertahankan esensi dari CMO dengan beberapa modifikasi atau pengurangan tingkat distorsi. Besarnya pengurangan akan sangat bergantung pada bargaining position produsen gula di EU, sikap pembayar pajak terhadap dukungan ke sektor pertanian, visi pemerintah dan parlemen terhadap pertanian, pengurangan distorsi yang dilakukan oleh negara pesaingnya, khususnya Amerika, dan tekanan dunia internasional, khususnya produsen gula dari negara berkembang.

Kita berharap EU melakukan penurunan distrosi secara signifikan sehingga dapat menjadi tonggak untuk menekan negara-negara yang protektif untuk juga mengurangi proteksinya. Dengan demikian, kita berharap akan terwujud perdagangan gula di pasar interansional yang fair sehingga semua produsen bersaing dengan mengandalkan keunggulan kompetitif masing-masing negara. Pengurangan distorsi jelas akan mengembalikan sebagian kesejahteraa yang hilang ( welfare loss = US$ 4.7 miliar per tahun) untuk didistribusikan ke semua pelaku gula, termasuk produsen gula di Indonesia .

Selasa, 26 Oktober 2010

Fenomena - Ilmu Pengetahuan Genetika

Kota Anak Kembar Buatan Dokter Nazi

Sumber: detikHealth

img
Candido Godoi, Brazil, Kota kecil Candido Godoi di Brazil memiliki tingkat kelahiran anak kembar yang tidak wajar yakni 1:5. Fenomena ini tidak terjadi secara alami, melainkan hasil eksperimen seorang dokter Nazi bernama Josef Mengele di tahun 1960-an.

Selain cukup tinggi dibanding tingkat kelahiran anak kembar di wilayah lain di dunia yang rata-rata hanya 1:8, keturunan yang dihasilkan juga unik. Hampir semua anak kembar di kota kecil bernama Candido Godoi ini memiliki rambut pirang dan mata biru.

Bertahun-tahun para ilmuwan gagal memecahkan misteri yang terjadi di kota yang terletak di perbatasan dengan Argentina itu. Hingga akhirnya pada awal 2009, seorang ilmuwan Argentina bernama Jorge Camarasa mengungkapnya dalam buku "Mengele: the Angel of Death in South America".

Setelah melakukan investigasi mendalam, Camarasa memastikan fenomena itu adalah hasil eksperimen seorang dokter Jerman anggota Nazi, Josef Mengele. Dokter yang dijuluki Malaikat Maut itu bertugas di Auschwitz, salah satu kamp Nazi yang terletak di Polandia, sejak Mei 1943 hingga Januari 1945.

Misi besar yang diemban Mengele di kamp tersebut adalah menciptakan rekayasa genetika untuk menghasilkan anak kembar. Tujuannya tak lain adalah memperbanyak populasi ras yang dianggap Adolf Hitler paling mulia di seluruh dunia, yakni ras atau bangsa Arya.

Dikutip dari Telegraph, Selasa (26/10/2010), Mengele gagal menyelesaikan misi itu hingga berakhir masa tugasnya lalu dipindahkan ke Paraguay. Rupanya ia masih penasaran, lalu melanjutkan eksperimen itu sampai akhirnya ajal datang menjemputnya di Brazil pada tahun 1975.

Selama melanjutkan eksperimen rahasia tersebut, Mengele yang selama hidupnya terus diburu oleh militer Israel tidak menetap di Paraguay tetapi berpindah-pindah ke Argentina dan Brazil. Diduga ia mulai menjadikan kota kecil Candido Godoi di Brazil yang dihuni para petani sebagai laboratorium hidup sekitar tahun 1960-an.

Kepada warga setempat, Mengele mengaku sebagai dokter hewan dan membantu mengobati hewan ternak. Setelah mendapat tempat di hati warga, ia mulai merawat ibu hamil dengan obat-obatan yang sesungguhnya berisi cairan kimia hasil eksperimen rahasianya tentang anak kembar.

"Dia (Mengele) banyak bicara soal ternak dan penyakitnya lalu mengatakan jangan khawatir, ia bisa mengobatinya. Para petani mengingatnya sebagai orang yang sopan dan bermartabat," ungkap Leonardo Boufler, seorang petani asal Candido Godoi saat menceritakan kenangan para warga tentang Mengele.

Secara detail, tidak diketahui pasti kapan dan bagaimana Mengele melakukan eksperimen tersebut. Namun menurut catatan, fenomena kelahiran banyak anak kembar dalam jumlah banyak di Candido Godoi muncul sekitar tahun 1963, saat Mengele diperkirakan mulai masuk di wilayah tersebut.

Faktor genetik diduga lebih berperan


Meski banyak yang mengakui adanya eksperimen anak kembar oleh Jesof Mengele, tidak semua sependapat bahwa fenomena Candido Godoi adalah hasil karyanya. Salah satu yang menentang adalah Ursula Matte, pakar genetika dari Porto Alegre Hospital di Brazil.

Dalam penelitian yang dilakukannya tahun 1990 hingga 1994, kelahiran anak kembar yang tinggi di wilayah itu dipicu faktor genetik. Pemeriksaan DNA yang dilakukan pada sejumlah pasangan kembar menunjukkan adanya kecenderungan pada sebagian warga untuk menghasilkan keturunan kembar.

Saat penelitian itu dilakukan, tingkat kelahiran anak kembar di Candido Godoi tercatat 10 persen sementara rata-rata di wilayah lain hanya 1,8 persen. Matte menduga sebelum era 1960-an angkanya tidak jauh berbeda, hanya saja belum tercatat.

"Paparan racun kimia dan teknik bayi tabung memang bisa menghasilkan bayi kembar, namun hingga kini belum diketahui mekanismenya. Sulit bagi saya untuk percaya Mengele bisa melakukannya pada masa itu dan memberikan efek dalam periode sedemikian panjang," ungkapnya seperti dimuat oleh Newscientist.

Selasa, 19 Oktober 2010

IPTEK - Tafsir Para Ilmuan

Peneliti Yakin Bumi Kiamat Tiap 27 Juta Tahun

Sumber : Viva News

VIVAnews - Para peneliti kini 99 persen yakin bahwa peristiwa kehancuran massal di Bumi terjadi secara reguler, seteratur jarum jam berputar. Begitulah temuan para ilmuwan dari Universitas Kansas dan Smithsonian Institute di Amerika Serikat setelah mereka memetakan semua armagedon sejak 600 juta tahun yang lalu.

Astrofisikawan dari Universitas Kansas, Dr. Adrian Melott, dan palaeontologis dari Smithsonian Institute, Dr. Richard Bambach, mengungkapkan dalam kurun waktu itu kiamat di Bumi terjadi setidaknya tiap 27 juta tahun sekali.

Dan penyebab kiamat mendatang, menurut para peneliti itu, ternyata bukanlah pemanasan global.

Lalu apa?

Planet kita selalu melintasi hujan komet tiap 27 juta tahun, dan ternyata sangatlah jarang Bumi berhasil lolos dengan selamat. Selama 20 kali melewati cobaan maut itu, Bumi hanya berhasil lolos dari lubang jarum dan mempertahankan sebagian besar organisma biologis yang hidup di atasnya, sebanyak enam kali saja.

Yang paling terkenal adalah bencana dahsyat 65 juta tahun lalu, saat asteroid selebar 15 kilometer menghantam Bumi--di titik yang sekarang merupakan wilayah Meksiko--dengan kekuatan miliaran kali bom atom dan lalu menyapu habis Dinosaurus dari muka Bumi.

Lebih celaka lagi, periode putaran kiamat ini tak akurat betul. Terkadang, asteroid-asteroid menghantam semua makhluk hidup di muka bumi, 10 juta tahun lebih cepat dari yang semestinya.

Tapi, janganlah buru-buru panik. Masih ada kabar baik.

Ini menyangkut Nemesis, bintang kembar gelap dari matahari. Selama ini, Nemesis selalu dituding jadi biang keladi. Teori umumnya begini: tiap 27 juta tahun sekali, Nemesis melintasi sabuk raksasa debu dan es yang disebut awan Oort, dan gara-gara itu lalu melontarkan komet-komet ke Bumi.

Sekarang, para ilmuwan mengatakan: karena skenario kiamat terjadi secara begitu reguler, Nemesis tidaklah mungkin jadi penyebab utama karena orbitnya akan mengalami perubahan dalam kurun waktu sebegitu lama.

Tapi, ini bukan berarti bahwa Nemesis--yang terletak sekitar satu tahun cahaya dari matahari--tidak akan lagi menyemburkan komet-komet awan Oort-nya ke seantero galaksi kita. Sekarang ini, komet-komet itu sedang menghajar planet-planet lain di luar Bumi.

Jadi, karena armagedon terakhir terjadi 11 juta tahun lalu, maka berdasarkan teori ini, Bumi baru akan kiamat pada tahun 16.002.010--bukan dua tahun mendatang, seperti yang difilmkan Roland Emmerich di "2012."

Artinya, silakan Anda menghirup nafas lega-lega--sepanjang pemanasan global tak segera menciptakan kiamat yang lain.

Jumat, 08 Oktober 2010

TEKNOLOGI UNTUK KEMULIAAN BANGSA

“Para insinyur Indonesia saat ini perlu memusatkan perhatian dan berinovasi untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam tiga sektor, yaitu energi, pangan dan lingkungan hidup. Untuk mengatasi ketiga tantangan tersebut, diperlukan inovasi teknologi dan sosial oleh semua pihak, khususnya oleh lembaga pemerintah, swasta, BUMN, dan lembaga pendidikan dan penelitian”, ungkap Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Elektro tersebut.

Dikatakan Arifin, kemampuan dan hasil kerja tenaga dari Indonesia tidak kalah potensinya dibandingkan negara lainnya. Hal tersebut dapat harus didorong dengan persiapan yang baik, diberi pendidikan, pelatihan yang cukup, serta diberi tantangan. “Ini sudah saya buktikan sendiri. Pengalaman saya dan jajaran Medco Energi dalam menugaskan para insinyur Indonesia di daerah operasinya di luar negeri, prestasi dan performa kerja mereka diakui oleh berbagai perusahaan minyak papan atas dunia”.

Diakhir orasinya, Arifin mengutip judul buku yang ditulis oleh Lawrence E. Harison yang berjudul “Underdevelopment is a State of Mind” (Keterbelakangan adalah masalah mentalitas). “Saya merasakan kebenaran dari pernyataan tersebut, bahwa membangun mentalitas yang kuat lebih sulit daripada mengembangkan kompetensi. Dari pengalaman saya dalam mengembangkan usaha dan bergerak dalam kegiatan kemasyarakatan, saya mendapat keyakinan bahwa kita bisa”, tegas Arifin. (Situs BPPT Online)