Selasa, 11 Mei 2010

IPTEK

Komputer

Komputer berasal dari bahasa latin computare yang mengandung arti menghitung. Karena luasnya bidang garapan ilmu komputer, para pakar dan peneliti sedikit berbeda dalam mendefinisikan termininologi komputer.

Berikut adalah beberapa defenisi Komputer antara lain :

1. Hamacher komputer adalah mesin penghitung elektronik yang cepat dan dapat menerima informasi input digital, kemudian memprosesnya sesuai dengan program yang tersimpan di memorinya, dan menghasilkan output berupa informasi.

2. Blissmer mengatakan bahwa, komputer adalah suatu alat elektonik yang mampu melakukan beberapa tugas sebagai berikut: menerima input, memproses input tadi sesuai dengan programnya, menyimpan perintah-perintah dan hasil dari pengolahan, menyediakan output dalam bentuk informasi.

3. Fuori berpendapat bahwa komputer adalah suatu pemroses data yang dapat melakukan perhitungan besar secara cepat, termasuk perhitungan aritmetika dan operasi logika, tanpa campur tangan dari manusia.

Untuk mewujudkan konsepsi komputer sebagai pengolah data untuk menghasilkan suatu informasi, maka diperlukan sistem komputer (computer system) yang elemennya terdiri dari hardware, software dan brainware. Ketiga elemen sistem komputer tersebut harus saling berhubungan dan membentuk kesatuan. Hardware tidak akan berfungsi apabila tanpa software, demikian juga sebaliknya. Dan keduanya tiada bermanfaat apabila tidak ada manusia (brainware) yang mengoperasikan dan mengendalikannya.

  1. Hardware atau Perangkat Keras: peralatan yang secara fisik terlihat dan bisa djamah.
  2. Software atau Perangkat Lunak: program yang berisi instruksi/perintah untuk melakukan pengolahan data.
  3. Brainware yaitu tingkat kecerdasan manusia yang mengoperasikan dan mengendalikan sistem komputer.

Penggolongan Komputer

Literatur terbaru tentang komputer melakukan penggolongan komputer berdasarkan tiga hal yakni; data yang diolah, fungsi dan kenggunaan data, kapasitas / ukurannya, dan generasinya.

Berdasarkan Data Yang Diolah

  1. Komputer Analog
  2. Komputer Digital
  3. Komputer Hybrid

Berdasarkan Penggunannya

  1. Komputer Untuk Tujuan Khusus (Special Purpose Computer)
  2. Komputer Untuk Tujuan Umum (General Purpose Computer)

Berdasarkan Kapasitas dan Ukurannya

  1. Komputer Mikro (Micro Computer)
  2. Komputer Mini (Mini Computer)
  3. Komputer Kecil (Small Computer)
  4. Komputer Menengah (Medium Computer)
  5. Komputer Besar (Large Computer)
  6. Komputer Super (Super Computer)

Berdasarkan Generasinya

  1. Komputer Generasi Pertama (1946-1959)
  2. Komputer Generasi Kedua (1959-1964)
  3. Komputer Generasi Ketiga (1964-1970)
  4. Komputer Generasi Keempat (1979-sekarang)
  5. Komputer Generasi Kelima

Referensi

  1. V. Carl Hamacher, Zvonko G. Vranesic, Safwat G. Zaky, Computer Organization (5th Edition), McGraw-Hill, 2001.
  2. Robert H. Blissmer, Computer Annual, An Introduction to Information Systems 1985-1986 (2nd Edition), John Wiley & Sons, 1985.
  3. William M. Fuori, Introduction to the Computer: The Tool of Business (3rd Edition), Prentice Hall, 1981.

Politik dan Hukum

ICW: Ini Momen Tepat Susno Keluarkan 'Nuklir' Skandal Polri



Jakarta - Pihak Komjen Pol Susno Duadji protes keras atas penangkapan yang dilakukan Polri. Momen ini dinilai tepat untuk membongkar sejumlah data terkait skandal di tubuh Polri yang dikantongi Susno.

"Susno harus lebih galak lagi. Susno harus melawan dengan mengeluarkan data-data yang pernah ia katakan. Ini waktunya Susno mengeluarkan 'nuklir' itu," kata Ketua Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW, Febri Diansyah, saat dihubungi detikcom, Selasa (11/5/2010).

Seperti diberitakan, sebelum lengser dari Kabareskrim, Susno pernah minta dibelikan tiga brankas besar untuk menyimpan data. Meski tidak mau mengungkap data apa yang disimpan, Susno mengatakan data itu akan jadi 'peluru' ketika ia terpojok.

"Susno juga bisa membuka rekening 15 pati Polri yang pernah disinggung waktu ia di PPATK. Jangan sampai jeruji besi menghalangi Susno," kata Febri.

Mengenai penangkapan Susno, Febri menilai hal itu menunjukkan respon berlebihan dari Polri. Alih-alih menyelesaikan masalah internal, penangkapan malah menimbulkan keraguan terhadap proses hukum yang dilakukan Tim Independen Polri.

"Masyarakat akan merasa takut jika mau melaporkan dan membongkar kasus serupa," pungkasnya.