Rabu, 02 Juni 2010

Humaniora

DATA BUSUNG LAPAR NTT “HANYA DIPREDIKSIKAN”


Busung lapar di Nusa Tenggara Timur barangkali sudah dapat dikatakan bukan hanya menjadi keprihatinan di Provinsi itu, tapi keprihatinan nasional. Namun sikap para elit setempat tampaknya tak banyak berubah. Mereka hampir-hampir dapat dikatakan “tak peduli, pokoknya proyek jalan terus”


Desa atau Posyandu tak terjangkau oleh petugas pemerintah sehingga data tak diambil, alias laporan dan usulan kabupaten itu hanya diprediksikan saja. Mungkin karena medannya berat atau karena musim hujan atau mungkin karena petugas “MALAS”.

Tak ada koordinasi antara Kecamatan, Puskesmas, Dinkes Kabupaten, LSM. Akibatnya, banyak data yang tercecer bahkan ada begitu banyak kegiatan LSM yang tak diketahui oleh Dinkes Kabupaten. Maka perlu cari tahu darimana data Kadinkes Propinsi diambil? Lebih parah lagi, sejak dua tahun lalu Kepala Dinas Kesehatan Propinsi NTT berstatus “TERSANGKA”dan sempat ditahan di penjara Penfui, Kupang, selama 20 hari. Ia mengalami stress berat karena tersangkut korupsi dana pengadaan sarana kesehatan (Sar-kes) senilai Rp15 milyar. Bagaimana kadinkes dapat bekerja dengan baik dan mencapai hasil seperti yang dilaporkan? Selama masih berstatus tersangka dan “Ex-Tahanan Polisi” Gubernur NTT memberi kesempatan kepada yang bersangkutan untuk melanjutkan studi S2 (konon di Boston). Bagaimana kadinkes dapat bekerja, antara menghadapi tuntutan jaksa dalam status tersangka-tahanan polisi, studi S2 di Boston dan melakukan tugas dengan hasil yang dilaporkan?

Pagelaran Acara dimulai sekitar 09.00-12.00. yang dihadiri oleh Sekretaris Menkokesra dan rombongan, Dirjen PUM Depdagri dan rombongan, Gubernur NTT dangan Kepala Dinas/Instansi terkait, Ketua DPRD NTT dan Pimpinan Komisi. Semua Bupati atau walikota di NTT dengan pimpinan instansi dan dinas-dinas terkait di tingkat propinsi, pimpinan DPRD masing-masing kabupaten atau kota, dan para jurnalis. Acara itu jadi terasa “sangat menarik” karena dimeriahkan oleh Kelompok Koor dari Pemda NTT, Acara ini sendiri sebenarnya sudah direncanakan agak lama tapi selalu tertunda tanpa alasan jelas. Semula dijadualkan 6 Juni namun entah karena apa ditunda “MENDADAK” jadi 12 Juni 2006. Kemudian dimajukan lagi pada tanggal 8 Juni, yang dibuka langsung oleh Gubernur NTT (Alm. Piet A Tallo). di Aula El Tari.


Acara diawali dengan menyanyikan sekitar lima lagu daerah dan lagu pop oleh kelompok Koor Layaknya dalam acara lomba koor “Pesparawi”, konser atau “mantènan Jawa” ala modern. Setelah itu Gubernur NTT memberi sambutan dan membuka acara secara resmi dan mempersilakan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi NTT menyampaikan paparan tentang kemajuan dan pelayanan publik di sektor kesehatan di NTT, semuanya berlangsung begitu saja seolah sesuai scenario tertentu dan tak ada tanya-jawab atau klarifikasi dari pihak manapun saat itu padahal banyak pihak yang mengklaim diri menjadi Pemantau Program Kejadian Luar Biasa dan Busung Lapar di NTT, termasuk para wartawan Media cetak dan Elektronik local maupun Nasional (Kompas dan radio El Shinta Jakarta).

Dalam acara tersebut, ada beberapa kali komentar dan klarifikasi yang dilakukan Sekretaris Menkokesra menyangkut Koordinasi Lintas Instansi mengenai Pelaksaaan Program Jangka Menengah dan Jangka Panjang KLB - Busung Lapar serta usulan Penanggulangan Bencana Alam dari Kabupaten atau Kota. Dirjen PUM Depdagri memberikan informasi mengenai koordinasi dan Rencana Kerja ke depan dalam menangani Otonomi Daerah yang cenderung tak efektif. Acara ditutup sekitar pukul 12.00 setelah makan siang. Selebihnya Gubernur, para bupati dan walikota melakukan pertemuan tertutup dengan para pejabat dari Jakarta di Hotel Kristal.
DEMIKIAN berita dari Kupang. Silakan menggugat, merenungkan tetapi jangan ditangisi dan sesali situasi serba tak peduli ini sebab airmata orang NTT sudah kering untuk menyertai Anda menangis.***

Ironisnya Korban Busung Lapar di NTT Bertambah

Hal yang berbanding terbalik dengan hasil pemaparan Kadinkes NTT, ironisnya Jumlah penderita busung lapar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) makin bertambah. Untuk menanggulanginya, pemerintah Provinsi mulai mengirim bantuan makanan tambahan bagi penderita busung lapar berupa susu, kacang hijau, dan beras tersebut dikirim dari ibukota kabupaten untuk penderita busung lapar yang umumnya berdomisili di desa-desa terpencil yang tersebar di 8 kebupaten.

Dari data yang diperoleh, dirincikan bahwa dari jumlah 54 korban Busung Lapar, sebanyak 53 orang menderita kekurangan karbohidrat (marasmus), dan satu orang menderita kekurangan protein (kwashiorkor) antara lain :

1. Korban kwashiorkor terdapat di Kabupaten Flores Timur

2. Penderita marasmus tersebar di Kabupaten Timor Tengah Utara (2 orang), Timor Tengah Selatan (9 orang), Kota Kupang (8 orang), Kabupaten Kupang (7 orang), Alor (2 orang), Lembata (2 orang) dan (2 orang).

Menurut Kadinkes NTT, petugas kesehatan mendatangi tiap-tiap rumah penderita untuk menyerahkan langsung bantuan bahan makanan. Tim pemantau busung lapar yang dikirim Dinas Kesehatan ke setiap kabupaten saat ini masih berada di desa-desa. Mereka mengumpulkan informasi mengenai penyebab terjadinya busung lapar, serta mencari kemungkinan ada penderita yang belum melapor. "Yang paling penting adalah mengetahui penyebab terjadinya busung lapar. Sehingga, petugas bisa memberikan penanganan kesehatan secara menyeluruh" katanya. Busung lapar di NTT disebabkan oleh dua factor yaitu; anak tidak mendapat makanan bergizi dan penderita telah mengidap jenis penyakit lain yang menyebabkan kekebalan tubuh lemah; Kedua, minimnya pendapatan masyarakat sehingga tidak mampu membeli makanan bergizi bagi balita dan anak-anak, Beliau juga menolak ada kendala serius dalam penanganan kesehatan anak dan balita di NTT. Kondisi lingkungan dan ketiadaan makanan bergizi bagi anak juga menjadi penyebab terjadinya busung lapar, tambah Kadinkes NTT.

Berikut wawancara salah seorang warga bernama Agustinus Tlonaen, ayah Ardi Tlonaen(2) yang menderita busung lapar mengakui memang tidak pernah memberi makanan bergizi, termasuk susu kepada anaknya itu. Saat ditemui Media di rumahnya di Kelurahan Kelapa Lima, Kota Kupang, Agustinus mengatakan sejak kecil Ardi tidak pernah diberi minum susu, apalagi makanan bergizi seperti telur atau kacang-kacangan, karena tidak ada uang untuk berbelanja. Sejak kecil, Ardi hanya diberi makan bubur dan sayuran. Kedua jenis bahan makanan ini mudah diperoleh dengan harga terjangkau. sebagai tenaga honorer di Dinas Kebersihan Kota Kupang sebesar Rp450 ribu per bulan, tidak cukup untuk biaya hidup keluarga dengan enam anak itu. Untuk menambah penghasilan, setelah membersihkan sampah di sejumlah ruas jalan di Kota Kupang, Agustinus mengumpulkan barang-barang bekas, seperti botol bekas minuman air mineral untuk dijual. Harga per satu kilogram botol itu sebesar Rp600, dan dia hanya mendapat sekitar 20 kg setiap bulan.

Agustinus merupakan salah satu dari keluarga penderita busung lapar yang mendapat bantuan makanan tambahan. Rumahnya berjarak sekitar 200 meter dari rumah dinas Bupati dan Walikota Kupang. Sekitar 100 meter dari rumahnya juga terdapat dua restoran mewah yang sering digunakan sebagai tempat resepsi pernikahan keluarga pejabat. Kemarin, dia mendapat bantuan 12 bungkus susu formula untuk anak usia 1-5 tahun. "Tetapi saya bingung karena Ardi tidak mau minum susu. Kalau dikasih susu ia selalu menolak, tapi kalau dikasih bubur dan sayur ia langsung terima. Ini mungkin karena dia memang tidakpernah minum susu sejak kecil," kata Orance Oetpah, istri Agustinus