Kabar dari Provinsi Terselatan Indonesia
Sedikitnya 9.839 warga Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berada di perbatasan Indonesia- Timor Leste buta aksara. Jumlah ini menurun dibanding tahun 2005 sebanyak 46.499 orang.
"Masih ribuan orang yang belum melek huruf atau buta aksara," kata Bupati Belu, Joakim Lopez, yang dihubungi di Atambua, Senin (7/6). Menurut dia, jumlah ini menurun karena pemerintah setempat terus mensosialisasikan dan bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat untuk mengatasi tingginya angka buta huruf itu.
Dia mengatakan, pemerintah menargetkan dalam dua tahun ke depan, jumlah ini akan terus berkurang karena berbagai pelatihan keterampilan membaca, menulis dan menghitung terus dilakukan.
Jumlah warga buta aksara itu berumur antara 15-44 tahun Kondisi ini mengakibatkan indeks pembangunan manusia (IPM) di Belu berada pada posisi 17 dari 20 kabupaten/kota di NTT.
Kondisi ini juga, lanjutnya, sangat berpengaruh pada tingkat pengangguran dan kemiskinan di daerah ini. Sebab kemampaun aksara seseorang berkaitan dengan kemampuan dasar manusia untuk melakukan keterampilan-keterampilan diri melalui membaca, menulis dan menghitung.
"Tidak mudah untuk memberantas buta aksara memang tidak muda karena beberapa kendala, namun ia optimis akan teratasi," katanya.
Kendala yang dihadapi, tambahnya, tingginya angka putus sekolah pada jenjang SD, beratnya geografi wilayah, munculnya buta aksara baru, budaya lokal seperti budaya tutur masyarakat tradisional yang melemahkan budaya baca. Langkah-langkah strategis penuntasan buta aksara, lanjutnya, sudah ditempuh antara lain, dengan pengalokasian dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2010 sebesar Rp500 juta untuk mendidik warga buta aksara sebanyak 3.000 orang melalui kelompok belajar sebanyak 300 kelompok yang tersebar di seluruh Belu.
"Kita terus berupaya agar angka buta aksara ini dapat teratasi dengan mengalokasikan anggaran yang cukup untuk penuntasan itu," katanya.
Selasa, 08 Juni 2010
Antariksa
Bukti yang menunjukkan bahwa ada kehidupan di Titan, bulan Saturnus, tampaknya telah ditemukan oleh para ilmuwan National Aeronautics and Space Administration (NASA).
Para peneliti di lembaga ruang angkasa itu yakin mereka telah menemukan petunjuk penting yang menunjukkan bahwa alien primitif kemungkinan hidup di planet itu.
Data dari satelit Cassini NASA telah menganalisis kimia kompleks di permukaan Titan. Para ahli mengatakan satu-satunya bulan di planet itu memiliki atmosfer padat. Mereka telah menemukan bahwa bentuk-bentuk kehidupan telah bernafas di atmosfer planet dan juga memberi makan pada bahan bakar permukaannya.
Para astronom mengklaim bulan itu umumnya terlalu dingin untuk mendukung air cair di permukaannya. Penelitian itu terbagi dalam dua studi terpisah.
Makalah pertama, dalam jurnal Icarus, menunjukkan bahwa gas hidrogen yang mengalir di seluruh atmosfer planet menghilang di permukaan. Ini menunjukkan bahwa bentuk alien telah bernapas.
Makalah kedua, dalam Journal of Geophysical Research, menyimpulkan bahwa ada kekurangan bahan kimia di permukaan.
Para ilmuwan kemudian dituntun untuk meyakini bahwa zat itu mungkin telah dikonsumsi oleh suatu bentuk kehidupan. Para peneliti memperkirakan sinar matahari berinteraksi dengan bahan kimia di atmosfer untuk menghasilkan gas asetilena. Tapi Cassini tidak mendeteksi gas tersebut. Chris McKay, seorang astrobiologist di Pusat Penelitian NASA, di Moffett Field, California, yang memimpin penelitian, mengatakan: konsumsi hidrogen mirip dengan cara kita mengkonsumsi oksigen di Bumi.
"Jika tanda-tanda ini menjadi suatu tanda-tanda kehidupan, itu akan sangat menarik karena akan mewakili bentuk kedua dari kehidupan berbasis air di Bumi.
Profesor John Zarnecki, Universitas Terbuka, menambahkan: Kami percaya zat kimia itu ada agar kehidupan terbentuk. Dia hanya membutuhkan panas dan kehangatan untuk memulai proses.
"Dalam waktu empat miliar tahun, ketika matahari membengkak menjadi raksasa merah, akan menjadi surga di Titan."
Mereka memperingatkan, bagaimanapun, mungkin ada penjelasan lain untuk hasil temuan itu. Tapi secara bersama-sama, keduanya menunjukkan dua kondisi penting yang diperlukan untuk keberadaan kehidupan berbasis metana. (*)
Sumber : TRIBUNNEWS.COM
Para peneliti di lembaga ruang angkasa itu yakin mereka telah menemukan petunjuk penting yang menunjukkan bahwa alien primitif kemungkinan hidup di planet itu.
Data dari satelit Cassini NASA telah menganalisis kimia kompleks di permukaan Titan. Para ahli mengatakan satu-satunya bulan di planet itu memiliki atmosfer padat. Mereka telah menemukan bahwa bentuk-bentuk kehidupan telah bernafas di atmosfer planet dan juga memberi makan pada bahan bakar permukaannya.
Para astronom mengklaim bulan itu umumnya terlalu dingin untuk mendukung air cair di permukaannya. Penelitian itu terbagi dalam dua studi terpisah.
Makalah pertama, dalam jurnal Icarus, menunjukkan bahwa gas hidrogen yang mengalir di seluruh atmosfer planet menghilang di permukaan. Ini menunjukkan bahwa bentuk alien telah bernapas.
Makalah kedua, dalam Journal of Geophysical Research, menyimpulkan bahwa ada kekurangan bahan kimia di permukaan.
Para ilmuwan kemudian dituntun untuk meyakini bahwa zat itu mungkin telah dikonsumsi oleh suatu bentuk kehidupan. Para peneliti memperkirakan sinar matahari berinteraksi dengan bahan kimia di atmosfer untuk menghasilkan gas asetilena. Tapi Cassini tidak mendeteksi gas tersebut. Chris McKay, seorang astrobiologist di Pusat Penelitian NASA, di Moffett Field, California, yang memimpin penelitian, mengatakan: konsumsi hidrogen mirip dengan cara kita mengkonsumsi oksigen di Bumi.
"Jika tanda-tanda ini menjadi suatu tanda-tanda kehidupan, itu akan sangat menarik karena akan mewakili bentuk kedua dari kehidupan berbasis air di Bumi.
Profesor John Zarnecki, Universitas Terbuka, menambahkan: Kami percaya zat kimia itu ada agar kehidupan terbentuk. Dia hanya membutuhkan panas dan kehangatan untuk memulai proses.
"Dalam waktu empat miliar tahun, ketika matahari membengkak menjadi raksasa merah, akan menjadi surga di Titan."
Mereka memperingatkan, bagaimanapun, mungkin ada penjelasan lain untuk hasil temuan itu. Tapi secara bersama-sama, keduanya menunjukkan dua kondisi penting yang diperlukan untuk keberadaan kehidupan berbasis metana. (*)
Sumber : TRIBUNNEWS.COM
Langganan:
Postingan (Atom)