Senin, 23 Agustus 2010

Psikologi - Wajah dan sosok tubuh yang simetris sempurna

Pada penelitian yang diselesaikan tahun 1999 y.l. ahli psikologi Linda Mealey dan rekan-rekannya dari Universitas Queensland dan Adelaide, Australia menyimpulkan bahwa orang dengan sosok tubuh serta wajah yang simetris nyaris sempurna umumnya dinilai jauh lebih menarik dibanding orang dengan sosok yang a-simetris atau kurang sempurna simetrisnya. Penelitian dilakukan dengan obyek penelitian sejumlah 34 pasangan kembar identik yang foto aslinya ditampilkan guna dinilai daya tariknya berdasarkan derajat kesempurnaan simetris pada wajahnya oleh sukarelawan penilai yang terdiri atas 33 pria dan wanita mahasiswa dari fakultas psikologi tersebut.

Kembar identik seperti diketahui berasal dari satu sel telur (monozygotic) , namun pada kenyataannya walau pasangan kembar identik mewarisi kode genetika yang persis sama pada saat tumbuh menjadi dewasa masing-masing individu seringkali memiliki adanya sedikit perbedaan rupa atau fisik.

Mealey menggunakan perangkat komputer dalam merekayasa secara kreatif penelitiannya, yakni dengan membuat tampilan setiap foto pasangan kembar dalam 3 macam image yang berbeda. Foto pertama menampilkan wajah asli atau apa adanya setiap pasangan kembar. Foto kedua dinamakan “composite double left“, karena wajah yang ditampilkan sesungguhnya wajah asli separuh sisi kiri yang lalu ditampilkan dengan cerminan kebalikannya (”mirror-reversed“) pada wajah sisi kanan. Sedangkan foto ketiga dinamakan “composite double right” dengan wajah asli separuh sisi kanan yang digandakan pada sisi wajah kiri dengan cerminan kebalikan.

Lebih lanjut Mealey meminta bantuan 75 mahasiswa lainnya guna menentukan pasangan kembar mana yang dianggap lebih atraktif. Hasilnya ternyata tetap konsisten, bahwa pasangan kembar yang diantara keduanya memiliki raut wajah yang sangat mirip satu sama lainnya – atau berarti memiliki derajat simetris yang nyaris sempurna – dianggap merupakan orang-orang yang lebih atraktif dibanding pasangan yang kurang memiliki tampilan wajah yang simetris.

Penelitian yang menyimpulkan bahwa simetris dianggap menarik ternyata bukan hanya berlaku atas manusia semata melainkan juga berlaku pada dunia hewan. Dalam rumusan ilmu psikologi evolusi mahluk hidup jawaban atas simetris sempurna dianggap lebih menarik, yakni dikarenakan adanya anggapan bahwa masing-masing setiap sisi sosok tubuh manusia dibentuk berdasar atas pengaruh suatu serial kumpulan gen yang serupa. Masing-masing sisi kiri dan kanan dapat dianggap sebagai “setangkup cetakan” yang seakan terpisah sendiri-sendiri dan tumbuh atas serangkaian komando genetika dalam kehidupan suatu mahluk.

Dengan demikian apabila kedua sisi adalah persis serupa maka hal itu menunjukkan bahwa kedua sisi tubuh benar-benar tumbuh sempurna sesuai dengan rincian rancangan (”design spesification“), sehingga hasilnya merupakan wujud individu yang “sempurna” dalam artian pertumbuhannya tidak mengalami satu pun faktor-faktor kekurangan ataupun penyakit.

Dinyatakan juga bahwa derajat kesempurnaan simetri pada wajah serta tubuh seseorang merupakan semacam cirian yang sangat berharga dalam menentukan apakah pria atau wanita dewasa akan menjadi seorang calon pasangan idaman. Tidaklah mengherankan pula bahwa orang seakan menjadi terbiasa untuk mencermati adanya perbedaan yang samar antara seseorang dengan wajah atau tubuh yang nyaris simetris sempurna dibanding dengan yang kurang sempurna , untuk kemudian memberikan penilaian bahwa seseorang pria atau wanita yang lebih simetris adalah yang lebih menarik. Bagi mahluk yang berkelamin pria dengan kesempurnaan simetri khususnya seringkali juga dianugerahi keberuntungan dalam segi daya tarik hingga selain memiliki lebih banyak pasangan lawan jenisnya, juga memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memuaskan kebutuhan biologis bagi pasangan lawan jenisnya

Beberapa penelitian mutakhir lain memberikan petunjuk awal, bahwa orang memiliki kemampuan untuk mengkaji dan menilai simetris dengan cara selain dengan pengamatan visual yang mengandalkan kemiripan antara kanan-kiri keseluruhan sosok manusia. Salah satunya, adalah bahwa pada kebanyakan orang walaupun bahkan hanya melihat salah satu sisi wajah seseorang – hingga sebenarnya berarti ia tidak dapat secara langsung membandingan dengan pandangan visual secara lengkap keseimbangan simetris antara kanan-kiri – namun dengan imbuhan lain misalkan dengan faktor kulit wajah yang lebih terang ataupun mulus, dengan tetap mengingat pada pegangan awal untuk cenderung lebih menyukai wajah yang rupawan lalu segera dapat menyimpulkan daya tarik seseorang adalah menarik atau sebaliknya.

Ahli psikologi Anja Rikowski dari Ludwig Boltzman Institute di Wina, Austria bahkan telah menunjukkan bukti awal lainnya yang menakjubkan. Dalam penelitiannya Anja Rikowski melaporkan bahwa kebanyakan lelaki dalam penelitiannya dapat secara tepat menilai bahwa seseorang wanita yang menjadi obyek penelitian adalah lebih atraktif yakni; memiliki postur tubuh seimbang serta wajah yang simetri sempurna hanya berdasar penciuman atas aroma tubuh lawan jenisnya saja.
Dalam pengujian itu sekelompok pria diminta untuk membaui sejumlah kaos t-shirt yang masing -masing telah dipakai seorang wanita tertentu. Maksudnya sukarelawan itu diminta untuk menentukan derajat daya tarik serta kesimetrisan sosok tubuh dan wajah para wanita dengan tanpa sama sekali melihatnya ataupun mencium aroma wanita secara berdekatan langsung. Dan ternyata cukup berdasar penciuman itu rata-rata pria sependapat bahwa wanita yang menarik dengan tubuh serta wajah yang simetris ditunjukkan oleh karena adanya aroma tubuh yang lebih merangsang !
Namun demikian hasil penelitian ini dinyatakan belum benar-benar absah berhubung tingkat pengujiannya dianggap belum memadai menurut standard statistika penelitian dan masih perlu penelitian lebih lanjut.