Rabu, 07 Desember 2011

TOKOH


FRANCISCA C. FANGGIDAEJ

Lahir di pulau Timor pada tahun 1925, di desa Noël Mina. Ia adalah seorang guru bahasa Inggris, penterjemah dan wartawan, yang turut mendirikan Yayasan Studi Asia di Amsterdam dan menjadi salah satu pengurusnya. Fanggidaej adalah anak pasangan Gottlieb Fanggidaej, seorang pegawai tinggi di Hindia Belanda dan Magda Maël, seorang ibu rumah tangga dari Timor (suku asli desa Noel Mina) yang bekerja untuk Belanda di jaman kolonial.

Pada 1948 Francisca menikah dengan Sukarno, seorang anggota dewan dari Pesindo. Dari Sukarno, Francisca memperoleh seorang anak perempuan, Nilakandi Sri Luntowati. Dari pernikahannya yang kedua dengan sesama wartawan, Soepriyo, ia memperoleh enam orang anak.

MASA KECIL

Francisca belajar di Europeesche Lagere School (ELS) dan kemudian melanjutkan ke MULO. Di rumah, ia hanya diizinkan berbahasa Belanda. Hal ini menyebabkan ia bertumbuh merasakan dirinya sebagai seorang bangsa Belanda.

PERJUANGAN

Pada 6-10 November 1945 ia menjadi seorang delegasi Pemuda Republik Indonesia dalam Kongres Pemuda Indonesia I di Yogyakarta. Setelah Kongres berakhir, ia tidak bisa kembal ke Surabaya karena meletusnya pertempuran antara rakyat dan pemuda Surabaya melawan pasukan NICA. Ia memutuskan untuk bergabung dengan delegasi Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan kemudian menjadi anggotanya. Ia aktif dalam perjuangan untuk kemerdekaan, dengan mengadakan kampanye penerangan kepada rakyat tentang arti kemerdekaan dan kolonialisme.

Francisca aktif dalam Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BPKRI) yang salah satu kegiatannya adalah melakukan siaran Radio Gelora Pemuda di Madiun dengan menggunakan bahasa Belanda dan Inggris. Program ini terutama ditujukan kepada pasukan-pasukan Belanda dan Inggris dengan maksud memberikan gambaran kepada mereka bagaimana pendapat orang Indonesia sendiri tentang kemerdekaan dan kolonialisme.

Pada 21 Juli 1947, ia berangkat ke India untuk kemudian lanjut ke Festival Pemuda Sedunia Pertama di Praha, Cekoslowakia. Dari Praha ia pergi London dan di sana ia menerima kawat dari BKPRI agar selesai Festival ia pergi ke Kolkata untuk mewakili BKPRI dalam Panitia Persiapan South East Asian Youth & Students Conference yang akan diselenggarakan 21-–26 Februari 1948 di kota tersebut.

Setelah Perang Dunia II, ia aktif dalam perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan. Pada tahun 1949 ia menjadi ketua organisasi pemuda yang bernama Pemuda Rakyat. Tak lama sesudah itu, ia memulai karirnya sebagai wartawan yang memungkinkannya untuk melakukan perjalanan ke seluruh dunia.

Pada tahun 1957 ia ambil bagian dalam Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia mewakili golongan karya (Belum menjadi partai politik). Dengan fungsi ini Francisca Fanggidaej dikirim ke Chili pada tahun 1965 untuk menghadiri kongres organisasi wartawan internasional.

Pada 1964, ia menjadi penasihat Presiden Soekarno dalam kunjungannya ke Aljaziar. Di tahun 1965 ia berkunjung ke Chili sebagai anggota delegasi Indonesia dalam kongres Organisasi Wartawan Internasional di sana. Pada waktu itulah meletus tragedi G30S, sehingga ia tidak dapat kembali ke Indonesia. Sejak itu ia tinggal selama dua puluh tahun di Republik Rakyat Cina. Sejak 1985 ia menetap di Belanda.

By : Sumber (Joannicho.blogspot.com)


Tidak ada komentar: