Selasa, 12 April 2011

Prospek Ekonomi Pangan Berbasis Perkebunan 2011

Ekonomi pangan sepanjang 2010 mengandung sejumlah kontroversi karena dominasi posisi beras yang demikian strategis secara ekonomi-politik. Masyarakat cenderung memberikan perhatian berlebih terhadap impor beras karena secara historis ekonomi beras cukup dekat dengan lingkaran kekuasaan pengambil kebijakan. Masyarakat cenderung lupa akan potensi dan prospek komoditas pangan berbasis perkebunan, yang diperkirakan lebih cerah dibandingkan dengan komoditas pangan pokok dan tanaman pangan lain.

Pada 2011 pun, komoditas pangan pokok masih menghadapi permasalahan struktural di hulu, sehingga kenaikan harga pangan di tingkat global justru membawa konsekuensi dan dampak ekonomi-politik. Target swasembada pangan berkelanjutan untuk lima komoditas strategis: beras, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi, juga akan menghadapi tantangan serius, sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi pemerintah.

Di balik kontroversi di atas, komoditas pangan yang berbasis perkebunan, seperti kelapa sawit, kopi, kakao, teh dan lain-lain pada tahun 2011 memiliki prospek yang cerah. Beberapa faktor domestik seperti ketersediaan lahan dan pergerakan harga di pasar internasional menjadi salah satu insentif strategis untuk mendorong peningkatan produksi komoditas perkebunan di dalam negeri. Misalnya, produksi minyak sawit mentah (CPO=crude palm oil) Indonesia tahun 2010 bahkan diperkirakan melampaui 22 juta ton, jauh melewati produksi minyak Malaysia, yang diperkirakan maksimal mencapai 19 juta ton. Memang, angka akuntansi produksi akan berbicara lain jika diperhitungkan tingkat kepemilikan kebun kelapa sawit skala besar yang juga dimiliki oleh pengusaha atau perusahaan milik Malaysia.

Salah satu faktor positif yang menjadi insentif tersebut adalah semangat para petani, pekebun dan pengusaha sawit untuk tumbuh dan berkembang, walaupun ditekan dengan sekian macam isu sensitif seperti konversi hutan alam, ekspansi kebun sawit ke daerah gambut, kerusakan lingkungan hidup, emisi gas karbon, sampai pada kontaminasi klorin. Prakiraan kinerja ekspor CPO Indonesia masih akan meningkat pada 2011, mungkin melampaui 17 juta ton. Pungutan bea keluar ekspor CPO yang ditetapkan berdasarkan harga internasional memang akan memberikan tambahan penerimaan negara, walaupun sebenarnya dampak distortif dari jenis-jenis pungutan seperti bea keluar ini terhadap ekonomi sawit dan perekonomian secara umum masih akan tinggi.

Intinya adalah petani dan pelaku usaha industri sawit perlu lebih serius memutar otak agar keuntungan yang dihasilkan mampu dijadikan tambahan modal usaha dan masa depan industri pangan berbahan baku CPO. Di tingkat kebijakan, upaya penandaan (earmarking) dari penerimaan negara dari bea keluar sawit ini masih terus perlu diupayakan agar dukungan kebijakan untuk memajukan sektor hulu dan hilir kelapa sawit benar-benar menjadi kenyataan.

Tantangan di sektor hulu masih belum banyak bergeser dari tingkat produktivitas kebun sawit rakyat yang masih jauh dari produktivitas kebun sawit swasta besar, yang telah mencapai sekitar 17 ton per hektare. Pada tahun 2011, rencana pemerintah untuk melakukan peremajaan kebun sawit perlu segera direalisasikan, minimal dimulai dari proyek percontohan di beberapa sentra produksi dengan kebun berumur tua, di atas 30 tahun. Kealpaan melakukan peremajaan akan membawa konsekuensi yang amat mahal karena Indonesia akan kehilangan momentum untuk meningkatkan produktivitas, sesuai dengan potensi rata-ratanya sampai 30 ton per hektare. Tantangan terbesar dari industri pangan pada 2011 dan beberapa tahun ke depan adalah konsistensi kebijakan pengembangan industri hilir, agar nilai tambah industri dapat dinikmati pelaku usaha domestik, dan perekonomian Indonesia secara umum.